JAKARTA | Portalsulutnew.com – Sulawesi Utara mencatat capaian membanggakan di sektor kesehatan. Angka harapan hidup masyarakat kini mencapai 74,44 tahun, menempatkan provinsi ini dalam 10 besar nasional sekaligus menjadi yang tertinggi di kawasan Sulawesi.
Capaian tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus SE, saat menjadi narasumber dalam sebuah talkshow di stasiun televisi nasional di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurut Gubernur Yulius, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tidak lahir dari satu program semata, melainkan hasil sinergi pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kementerian, instansi vertikal, hingga berbagai elemen masyarakat.
“Indeks Pembangunan Manusia tidak hanya ditentukan oleh kesehatan, tetapi juga pendidikan dan ekonomi. Karena itu, semua pihak harus bekerja bersama agar kualitas hidup masyarakat terus meningkat,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, rata-rata lama sekolah di Sulawesi Utara telah mencapai 12,7 tahun atau mendekati target nasional 13 tahun. Sementara pertumbuhan ekonomi daerah yang berada di atas rata-rata nasional turut menopang peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Tak hanya itu, Sulawesi Utara juga berhasil menekan angka stunting dan kemiskinan sehingga memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat.
Di bidang layanan kesehatan, cakupan Universal Health Coverage (UHC) telah mencapai 99,1 persen, melampaui standar nasional. Sementara tingkat keaktifan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berada di angka 81,4 persen, juga lebih tinggi dibanding target nasional sebesar 80 persen.
“Ini menunjukkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan semakin terjamin,” kata Gubernur Sulut.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga terus memperkuat pelayanan bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan lanjut usia melalui penguatan layanan posyandu, puskesmas, serta budaya gotong royong mapalus.
Meski demikian, Gubernur Yulius mengakui tantangan pemerataan layanan kesehatan masih cukup besar mengingat Sulawesi Utara memiliki 382 pulau dengan sebagian wilayah berpenghuni yang membutuhkan akses pelayanan lebih luas.
Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas layanan kesehatan dengan tiga prinsip utama, yakni dekat, cepat, dan bermutu, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada rumah sakit rujukan.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Pemprov Sulut juga mulai mengatasi persoalan kekurangan tenaga medis. Saat ini kebutuhan dokter umum di Sulut diperkirakan mencapai sekitar 3.300 orang, sementara yang tersedia baru sekitar 2.300 dokter. Kekurangan juga terjadi pada dokter gigi yang masih membutuhkan sekitar 1.500 tenaga.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah mendorong pembukaan Fakultas Kedokteran di sejumlah perguruan tinggi. Universitas Negeri Manado (Unima) telah membuka Fakultas Kedokteran dengan kuota awal 50 mahasiswa asal Sulawesi Utara yang mendapat beasiswa. Pembukaan fakultas serupa di Universitas Klabat dan Universitas Katolik De La Salle Manado juga tengah diproses.
“Kami berharap lulusan fakultas kedokteran ini nantinya dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya di wilayah kepulauan,” ujar Yulius.
Ia menegaskan, pembangunan kesehatan harus menjadi gerakan bersama lintas sektor agar kualitas hidup masyarakat Sulawesi Utara terus meningkat.
“Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh sektor pembangunan untuk mewujudkan Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.***





