SULUT, Portalsulutnew.com — Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut tidak alergi terhadap kritik. Namun, kritik terhadap pemerintah harus disampaikan berdasarkan fakta dan tidak dibarengi informasi bohong yang berpotensi memicu situasi tidak sehat di tengah masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Gubernur Yulius saat menggelar coffee morning bersama insan pers di Graha Bumi Beringin, Manado, Rabu (26/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Gubernur didampingi Wakil Gubernur Sulut Dr Victor Mailangkay SH MH. Turut hadir Asisten 3 Setdaprov Sulut Franciskus Manumpil, Koordinator Staf Khusus Gubernur Ferdinand Novi Mewengkang serta Staf Khusus Gubernur Januardo Binilang.
Di hadapan para jurnalis, Yulius Selvanus mengakui bahwa tidak ada program pemerintah yang berjalan tanpa kekurangan. Karena itu, ia menilai kritik dan koreksi dari media maupun masyarakat merupakan bagian penting dalam memperbaiki kinerja pemerintahan.
“Tidak ada program yang sempurna. Untuk itu siap koreksi. Pemerintah tidak mempersoalkan kritik yang disampaikan secara konstruktif,” kata Yulius.
Menurutnya, kritik justru dibutuhkan agar pemerintah dapat mengetahui berbagai kelemahan dalam pelaksanaan program maupun pelayanan kepada masyarakat.
Namun, Gubernur Yulius mengingatkan agar kritik tidak dicampuradukkan dengan penyebaran informasi yang tidak benar alias hoax.
“Tetapi harus dibedakan antara kritik dengan penyampaian informasi yang tidak benar atau bohong,” tegasnya.
Gubernur juga menyoroti fenomena penggunaan akun bot di ruang digital yang dinilainya berpotensi memperkeruh komunikasi publik.
Menurut Yulius Selvanus, pemerintah dan media seharusnya membangun hubungan komunikasi yang sehat. Perbedaan pandangan maupun kritik tidak boleh berkembang menjadi konflik komunikasi yang pada akhirnya justru merugikan masyarakat.
“Saya tidak ingin hubungan antara pemerintah dengan insan pers berubah menjadi tidak sehat, sehingga merugikan kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Yulius Selvanus menegaskan media memiliki posisi strategis sebagai salah satu sumber informasi masyarakat. Karena itu, pemberitaan mengenai kebijakan dan program pemerintah diharapkan tetap mengedepankan fakta, akurasi dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia bahkan mempersilakan media mengkritisi setiap program pemerintah yang dinilai bermasalah.
“Jika memang terdapat persoalan atau program pemerintah yang perlu dikritisi, media dipersilakan memberitakannya,” tegas Yulius.
Lebih lanjut, Gubernur meminta setiap persoalan yang muncul tidak dibiarkan berkembang tanpa analisis dan penyelesaian. Menurutnya, persoalan harus dilihat secara objektif agar tidak melebar menjadi gangguan terhadap situasi yang lebih luas.
“Setiap persoalan perlu segera dilihat secara objektif agar tidak berkembang menjadi gangguan terhadap situasi yang lebih luas. Untuk itu hubungan yang sehat antara pemerintah dan media sangat penting,” tandasnya.
Gubernur Yulius kembali menegaskan bahwa Pemprov Sulut membutuhkan media sebagai mitra dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Di sisi lain, media juga membutuhkan keterbukaan pemerintah agar dapat memperoleh informasi yang benar dan berimbang.
“Kami pemerintah justru ingin dikoreksi program kerja yang dilaksanakan. Mana ada program yang sempurna,” ujarnya.
Melalui coffee morning tersebut, Yulius Selvanus berharap tercipta ruang komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah daerah dan insan pers. Forum itu juga diharapkan menjadi wadah untuk membahas berbagai persoalan secara langsung sekaligus memperkuat hubungan pemerintah dengan media.
Bagi Gubernur Yulius Selvanus, kritik bukan ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, kritik yang berbasis fakta dan disampaikan secara konstruktif menjadi salah satu instrumen untuk menguji sekaligus memperbaiki jalannya program pembangunan di Sulawesi Utara.***





