Reza Hasanuddin: Loyal kepada Prabowo Bukan Berarti Tutup Mata terhadap Kebijakan Pemerintah

oleh
oleh

JAKARTA, PORTALSULUTNEW.COM — Loyalitas kepada seorang pemimpin tidak seharusnya diukur dari seberapa sering seseorang mengamini setiap kebijakan pemerintah. Pandangan itu ditegaskan Panglima PERANK Nasional, Reza Hasanuddin, saat merespons munculnya pertanyaan mengenai sikap politik dan kritik yang disampaikannya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Reza menegaskan, dukungannya kepada Prabowo bukan pilihan politik yang baru muncul setelah Prabowo menduduki kursi kepresidenan.

Ia mengaku telah menjatuhkan pilihan kepada Prabowo sejak kontestasi Pilpres 2009, 2014, 2019 hingga 2024. Dalam sejumlah momentum tersebut, Reza juga menyatakan dirinya terlibat dalam kegiatan relawan yang mendukung Prabowo.

“Loyalitas saya kepada Pak Prabowo bukan loyalitas yang baru muncul setelah beliau menjadi Presiden. Sejak 2009, 2014, 2019 hingga 2024, pilihan saya tidak pernah beralih,” tegas Reza Hasanuddin.

Namun, menurut Reza, rekam jejak dukungan politik tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik.
Baginya, mendukung Presiden Prabowo bukan berarti seorang pendukung harus kehilangan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Justru, kritik dan masukan dinilai penting agar kekuasaan tetap berada dalam jalur yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.

“Kritik bukan berarti pengkhianatan. Saran bukan berarti pembangkangan. Orang yang peduli justru harus berani menyampaikan apa yang dianggap benar,” ujarnya.

Reza secara terbuka merespons pihak-pihak yang mempertanyakan loyalitasnya kepada Prabowo hanya karena dirinya berani menyampaikan kritik.

Ia menilai ukuran loyalitas tidak semestinya didasarkan pada apakah seseorang selalu memberikan persetujuan terhadap pemerintah.

Menurutnya, loyalitas yang sehat justru memberikan ruang untuk mendukung ketika pemerintah mengambil kebijakan yang benar, sekaligus mengingatkan ketika terdapat kebijakan yang dinilai perlu diperbaiki.

“Jangan pernah mempertanyakan loyalitas saya kepada Pak Prabowo hanya karena saya berani bersuara,” kata Reza.

Ia bahkan menyentil pihak-pihak yang dinilainya baru belakangan mengenal perjalanan politik Prabowo, tetapi kemudian merasa memiliki kewenangan untuk mengukur kadar loyalitas orang lain.

“Ketika kalian mungkin baru mengenal nama Prabowo, saya sudah mengagumi dan mendukung sosok beliau sejak jauh sebelum kalian merasa paling tahu tentang perjuangan politik,” tegasnya.

Menurut Reza, dukungan politik seharusnya tidak menghilangkan keberpihakan kepada rakyat.

Ia menegaskan sikap tersebut menjadi dasar dirinya dalam menyampaikan pandangan terhadap pemerintahan Prabowo. Kebijakan yang dianggap baik akan didukung, sementara kebijakan yang masih memiliki kekurangan akan diberikan masukan.

Sedangkan apabila ditemukan persoalan yang dinilai menyimpang atau berpotensi merugikan kepentingan masyarakat, ia menyatakan tidak akan memilih diam.

“Saya mendukung Pak Prabowo, tetapi saya tetap berpihak kepada kepentingan rakyat. Jika kebijakan benar, saya dukung. Jika ada yang perlu diperbaiki, saya kritik. Jika ada yang menyimpang, saya akan bersuara,” ujarnya.

Reza menilai loyalitas tanpa sikap kritis justru berpotensi berubah menjadi pembenaran terhadap segala sesuatu yang dilakukan pemerintah.

Karena itu, ia memilih mempertahankan posisi sebagai pendukung yang tetap memiliki ruang untuk mengoreksi.

“Itulah loyalitas yang sehat: berdiri di belakang pemimpin ketika benar, tetapi tetap berani mengingatkan ketika ada yang harus diperbaiki,” pungkas Reza Hasanuddin.***

No More Posts Available.

No more pages to load.