Hari ini, Minggu 26 Juli 2026, seluruh masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, kembali merayakan tradisi Pengucapan Syukur. Lebih dari sekadar pesta makan bersama, tradisi ini merupakan warisan budaya turun-temurun yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Minahasa.
Pengucapan Syukur lahir dari nilai luhur masyarakat Minahasa yang menjunjung tinggi rasa terima kasih kepada Tuhan atas berkat panen, kesehatan, rezeki, dan kehidupan.
Meski zaman telah berubah, esensi tradisi ini tetap sama, yakni mengajarkan bahwa setiap keberhasilan dan kelimpahan patut disyukuri, bukan disombongkan.
Di balik meja yang dipenuhi hidangan khas Minahasa, tersimpan makna yang jauh lebih dalam. Momen ini menjadi ruang berkumpulnya keluarga, mempererat persaudaraan, membuka pintu rumah bagi tamu, serta memperkuat semangat mapalus atau budaya saling membantu yang menjadi identitas masyarakat Minahasa sejak dahulu.
Namun, di era modern, Pengucapan Syukur juga menghadapi tantangan. Makna spiritual dan nilai kebersamaan jangan sampai tergeser oleh gengsi, kemewahan, atau persaingan dalam menyajikan hidangan.
Tradisi ini seharusnya tidak diukur dari banyaknya makanan yang tersaji, melainkan dari ketulusan hati dalam berbagi dan bersyukur.
Melestarikan Pengucapan Syukur berarti menjaga identitas budaya Minahasa agar tetap hidup di tengah arus globalisasi.
Generasi muda perlu memahami bahwa tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan leluhur yang mengajarkan iman, persaudaraan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Selama nilai-nilai tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi, Pengucapan Syukur akan tetap menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minahasa sekaligus bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan dan berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
Penulis: Romel Nayoan



