Menbud Fadli Zon dan Gubernur Yulius Resmikan Museum Negeri Sulut: Dari Bangunan Terbengkalai Jadi Pusat Sejarah Modern

oleh
oleh
Peresmian Museum Negeri Sulut
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon dan Gubernur Yulius Selvanus meresmikan wajah baru Museum Negeri Sulut di Manado. Museum yang dulu terbengkalai kini tampil modern berbasis teknologi AI dan menjadi pusat edukasi sejarah serta budaya Sulawesi Utara.

SULUT | Portalsulutnew.com — Museum Negeri Sulawesi Utara akhirnya keluar dari bayang-bayang keterpurukan panjang. Setelah puluhan tahun dikenal kusam, minim perhatian, bahkan nyaris kehilangan fungsi sebagai pusat edukasi sejarah, kini museum kebanggaan masyarakat Sulut itu tampil dengan wajah baru yang modern, hidup, dan sarat teknologi.

Peresmian revitalisasi museum dilakukan langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon bersama Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus SE, Jumat (22/5/2026).

Momentum tersebut menjadi titik balik kebangkitan salah satu aset budaya terbesar di Sulawesi Utara yang selama hampir empat dekade berada dalam kondisi memprihatinkan.

Kini, Museum Negeri Sulut tak lagi hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda kuno. Revitalisasi besar-besaran mengubah museum menjadi ruang edukasi modern yang memadukan sejarah, teknologi digital, hingga kecerdasan buatan (AI), demi menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi pengunjung.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bahkan menyebut penataan Museum Negeri Sulut layak menjadi contoh bagi museum-museum provinsi lain di Indonesia.

Menurutnya, kekuatan utama museum tersebut terletak pada konsep storytelling dan periodisasi sejarah yang tertata rapi, mulai dari masa prasejarah hingga kekayaan etnografi masyarakat Sulawesi Utara.

“Storytelling dan periodisasinya sangat baik. Ini bisa menjadi contoh museum provinsi lainnya di Indonesia,” ujar Fadli.

Ia menegaskan, museum masa kini tidak boleh hanya menjadi “gudang benda bersejarah”, melainkan harus berkembang sebagai pusat pendidikan, wisata budaya, sekaligus penggerak ekonomi kreatif daerah.

Karena itu, pengelolaan museum didorong melibatkan banyak pihak, mulai dari komunitas seni, kalangan swasta, filantropis, hingga relawan budaya.

Menurut Fadli, kekayaan budaya Sulawesi Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif berbasis intellectual property (IP).

“Waruga dan ikon budaya Sulawesi Utara bisa dikembangkan menjadi produk kreatif seperti miniatur, kaos, mug, dan lainnya,” jelasnya.

Tak hanya itu, pemerintah pusat juga membuka peluang dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik untuk pengembangan museum pada tahun 2026 mendatang.

Sementara itu, Gubernur Sulut Yulius Selvanus mengungkapkan kondisi museum sebelum direvitalisasi sangat memprihatinkan. Saat pertama kali melakukan inspeksi, kawasan museum dipenuhi rumput liar, gelap, serta minim fasilitas dasar.

Bahkan, menurutnya, sempat muncul wacana agar bangunan tersebut dialihfungsikan atau dijual.

“Bagaimana menyimpan data sejarah kalau fasilitas pendukung saja tidak ada. Dari situ kami bergerak melakukan perbaikan,” ungkap Yulius.

Revitalisasi museum dilakukan melalui kolaborasi banyak pihak, mulai dari Dinas Kebudayaan Sulut, budayawan, sejarawan, hingga akademisi dari Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Manado.

Salah satu pekerjaan besar yang dilakukan ialah pendataan ulang sekitar dua ribuan koleksi bersejarah yang tersimpan di museum tersebut.

“Sekitar 90 persen koleksi sudah berhasil didata lengkap. Sisanya masih terus ditelusuri asal-usul dan nilai sejarahnya,” katanya.

Gubernur Yulius menegaskan keberadaan museum sangat penting untuk menjaga identitas budaya daerah sekaligus mengenalkan sejarah Sulawesi Utara kepada generasi muda.

“Anak-anak kita wajib datang ke museum untuk mengenal sejarah Sulawesi Utara. Ini menjadi kebanggaan masyarakat Sulut,” tegasnya.

Peresmian museum juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan alat musik kolintang kepada sejumlah daerah serta kartu BPJS Ketenagakerjaan bagi 1.000 pelaku seni dan budaya di Sulawesi Utara, yang disebut sebagai program pertama di Indonesia.

Suasana acara semakin semarak lewat pertunjukan seni budaya khas Sulawesi Utara, mulai dari tarian tradisional Minahasa, Bolaang Mongondow, Nusa Utara, hingga drama teatrikal dan musik bambu yang memukau tamu undangan.(*/romel)

No More Posts Available.

No more pages to load.