JOMBANG, Portalsulutnew.com — Calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, mendorong Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat orientasi organisasi dari akar rumput dengan lebih banyak mendengar suara jamaah, khususnya di luar Pulau Jawa.
Menurut Gus Rozin, kekuatan NU sejatinya tidak hanya berada pada struktur jam’iyyah, tetapi jauh lebih dahulu tumbuh melalui jamaah yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
“NU itu jamaah ada duluan, baru jam’iyyahnya,” ujar Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut dalam salah satu pertemuan bersama pengurus NU di daerah.
Pandangan itu menjadi salah satu gagasan yang disampaikan Gus Rozin dalam rangkaian silaturahmi dengan sejumlah PWNU dan PCNU menjelang Muktamar PBNU ke-35 di Jombang, Jawa Timur.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah, mulai Lampung, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, Gorontalo, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Gus Rozin menemukan persoalan yang dihadapi NU memiliki karakter berbeda sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Gus Rozin menilai pola penguatan organisasi tidak semestinya menggunakan pendekatan yang seragam. Kondisi geografis, ketersediaan sumber daya manusia, perkembangan pesantren hingga akses terhadap pembinaan organisasi membuat kebutuhan NU di luar Jawa memiliki tantangan tersendiri.
Sejumlah pengurus NU di luar Jawa, kata dia, banyak menyampaikan persoalan terkait keterbatasan pesantren, kaderisasi, sumber daya manusia, serta minimnya akses pendampingan organisasi.
Bahkan di sejumlah wilayah, keberadaan pesantren yang representatif masih menjadi kebutuhan mendasar.
Kondisi tersebut, menurut Gus Rozin, menjadi alasan penting agar kebijakan organisasi tidak hanya dirancang dari pusat, tetapi juga berangkat dari kebutuhan nyata jamaah di daerah.
“Penguatan NU perlu dilakukan melalui pendekatan dari bawah ke atas, bukan hanya dari tingkat atas,” tegasnya.
Gus Rozin mendorong agar PWNU dan PCNU diberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan organisasi berdasarkan karakter serta kebutuhan daerah masing-masing.
Menurutnya, PBNU tidak harus mengambil alih seluruh persoalan yang ada di daerah. Sebaliknya, organisasi di tingkat pusat dapat berperan sebagai penghubung agar kebutuhan daerah memperoleh perhatian, dukungan, dan akses sumber daya yang lebih baik.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan karakter NU yang selama ini tumbuh melalui jaringan masyarakat, pesantren, ulama, serta para penggerak di berbagai daerah.
“Penguatan struktur organisasi harus berjalan bersama dengan penguatan masyarakat yang menjadi basis NU,” katanya.
Selain penguatan struktur organisasi, Gus Rozin menempatkan pesantren sebagai salah satu fondasi penting masa depan NU.
Menurut dia, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah dan perkembangan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, penguatan pesantren harus ditempatkan sebagai bagian dari agenda strategis organisasi.
Dalam sejumlah pertemuan dengan pengurus NU di daerah, persoalan pesantren menjadi salah satu isu yang berulang. Di beberapa wilayah luar Jawa, masih terdapat daerah yang membutuhkan penguatan bahkan pembangunan pesantren yang mampu menjadi pusat pendidikan sekaligus kaderisasi ke-NU-an.
Lanjut Gus Rozin, persoalan tersebut membutuhkan kehadiran organisasi yang lebih dekat dan praktis.
PBNU, kata dia, dapat membantu membuka akses, membangun jejaring, serta mempertemukan kebutuhan daerah dengan sumber daya yang tersedia di tingkat pusat.
Gus Rozin juga menekankan pentingnya komunikasi dan ukhuwah dalam menghadapi dinamika internal NU.
Perbedaan pandangan, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, perbedaan tersebut harus dikelola melalui komunikasi dan ruang dialog agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Bagi Gus Rozin, membangun NU bukan semata-mata pekerjaan pengurus di tingkat pusat. Ada pekerjaan besar yang berlangsung di pesantren, PWNU, PCNU, hingga lingkungan masyarakat yang selama ini menjadi basis kehidupan Nahdlatul Ulama.
Karena itu, NU ke depan, menurutnya, harus menjadi organisasi yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga peka terhadap suara jamaah.
“NU yang kuat adalah NU yang tumbuh bersama jamaah dan mampu mendengar kebutuhan mereka,” demikian garis besar pandangan Gus Rozin.
Menjelang Muktamar PBNU ke-35, gagasan tersebut menempatkan penguatan akar rumput, pemerataan perhatian antara Jawa dan luar Jawa, serta penguatan pesantren sebagai bagian penting dalam pembicaraan mengenai arah masa depan Nahdlatul Ulama. (*/ronay)






