Setiap tanggal 25 April, dunia memperingati Hari Malaria Sedunia sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran, komitmen, dan aksi nyata dalam memerangi salah satu penyakit paling mematikan di dunia, yakni Malaria.
Pada Hari Malaria Sedunia 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bergabung dengan para mitra untuk meluncurkan kampanye: “Bertekad Mengakhiri Malaria: Sekarang Kita Bisa. Sekarang Kita Harus.” Ini adalah seruan untuk memanfaatkan momen melindungi nyawa sekarang dan mendanai masa depan bebas malaria.
Sejarah Penetapan
Hari Malaria Sedunia pertama kali diperingati pada tahun 2008, setelah disepakati dalam forum World Health Assembly, yang merupakan badan pengambil keputusan tertinggi di bawah naungan World Health Organization (WHO).
Awalnya, peringatan ini berkembang dari “Africa Malaria Day” yang telah lebih dulu diperingati sejak tahun 2001, menyusul komitmen global dalam Abuja Declaration yang menargetkan pengurangan signifikan kasus malaria di Afrika.
Fakta dan Dampak Global
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit ini masih menjadi ancaman serius, terutama di kawasan tropis dan subtropis.
Menurut laporan terbaru dari WHO:
Ratusan juta kasus malaria terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Afrika menjadi wilayah dengan beban malaria tertinggi secara global.
Upaya Global dan Kemajuan
Dalam dua dekade terakhir, dunia telah mencatat kemajuan signifikan dalam pengendalian malaria. Berkat distribusi kelambu berinsektisida, penyemprotan rumah, diagnosis cepat, dan terapi kombinasi berbasis artemisinin, jutaan nyawa berhasil diselamatkan.
WHO juga meluncurkan strategi global seperti Global Technical Strategy for Malaria 2016–2030, yang menargetkan:
Penurunan angka kematian akibat malaria hingga 90% Eliminasi malaria di puluhan negara. Pencegahan munculnya kembali kasus di wilayah yang telah bebas malaria.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski ada kemajuan, tantangan besar masih mengintai. Resistensi obat dan insektisida, perubahan iklim, serta keterbatasan pendanaan menjadi hambatan serius dalam upaya eliminasi malaria.
Pandemi global beberapa tahun lalu juga sempat mengganggu layanan kesehatan, termasuk distribusi alat pencegahan dan pengobatan malaria, sehingga berdampak pada peningkatan kasus di beberapa negara.
Indonesia sendiri terus berupaya mencapai target eliminasi malaria secara nasional. Sejumlah daerah telah dinyatakan bebas malaria, namun wilayah timur Indonesia masih menjadi fokus utama penanganan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menggencarkan berbagai program seperti surveilans aktif, penguatan layanan kesehatan, hingga edukasi masyarakat.
Momentum Aksi Bersama
Peringatan Hari Malaria Sedunia adalah panggilan untuk bertindak. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga internasional, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan dunia bebas malaria.
Dengan komitmen berkelanjutan dan inovasi di bidang kesehatan, harapan untuk mengakhiri malaria bukan lagi sekadar wacana, melainkan target nyata yang bisa dicapai.***





