04 April 1961 Momentum Sejarah yang Mengukir Persatuan Bangsa, ‘Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi’

oleh
oleh

Pada 09 Oktober 1960, FJ Tumbelaka dan Overste Soetarto berangkat ke Manado dengan sebuah pesawat bomber dari AURI. Dan pada 13 Oktober 1960, diadakan pertemuan ke-3 dengan DJ. Somba dan Abe Mantiri di Lahendong, Tomohon. Pada pertemuan ini FJ Tumbelaka menyampaikan “rencana penyaluran” untuk anggota-anggota Permesta. DJ. Somba meminta waktu untuk mempelajari rencana tersebut.

Tanggal 25 Oktober 2025. Hasil-hasil pertemuan ke-3 dilaporkan kepada MKN/KASAD, Jenderal AH Nasution di Jakarta.

Pada 17 Desember 1960. Diadakan pertemuan ke- 4 dengan Abe Mantiri dan Arie Supit disekitar Malenos, Amurang. Dalam pertemuan ini pihak Permesta menyampaikan beberapa amandemen atas “rencana penyaluran” dan dibicarakan pula prosedur pelaksanaan penyelesaian sebagai berikut :

  1. Seruan MKN / KASAD.
  2. Penandatanganan pernyataan oleh pihak Permesta.
  3. Penghentian tembak-menembak dan permusuhan.
  4. Inspeksi MKN / KASAD.

Selanjutnya, pada 27 dan 28 Desember 1960. Hasil pertemuan ke-4 dilaporkan kepada Ir. Djuanda, MKN / KASAD dan Brigjend. Ahmad Yani

Pada 12 Februari 1961. Diadakan pertemuan ke-5, FJ Tumbelaka dengan DJ. Somba, Abe Mantiri dan Lendy Tumbelaka disekitar Malenos. Didalam “rencana penyaluran” yang dalam garis besarnya disetujui, masih perlu diadakan penjelasan-penjelasan. DJ. Somba meminta waktu untuk menyampaikan keputusannya kepada Komandan-komandan bawahannya.

27 Februari 1961. Diadakan pertemuan ke-6 FJ Tumbelaka dengan Abe Mantiri dan Lendy Tumbelaka, dimana mereka menjelaskan tentang kesulitan dan kesukaran intern dan mengharapkan kesabaran, pengertian dan kebijaksanaan pihak Pemerintah

20 Maret 1961. Diadakan pertemuan ke-7 FJ Tumbelaka dengan AE. Kawilarang, Abe Mantiri dan Lendy Tumbelaka di Maliku. AE. Kawilarang memerintahkan kepada Abe Mantiri dan Lendy Tumbelaka untuk menandatangani surat-surat yang dianggap perlu dalam penyelesaian ini, karena DJ. Somba belum kembali dari perjalanan ke Minahasa Selatan. Dalam pertemuan ini telah dibuat pula konsep Pernyataan Penyelesaian.

Pada 21 Maret 1961, di Gereja Malenos, pernyataan penyelesaian tersebut di paraf oleh FJ Tumbelaka disatu pihak dan oleh Abe Mantiri dan Lendy Tumbelaka dilain pihak. Ditetapkan pula bahwa upacara penandatanganan Pernyataan Penyelesaian akan dilangsungkan pada 04 April 1961.

Pada 01 April 1961. Diadakan pertemuan ke-9 di Malenos untuk menetapkan tata upacara penandatanganan pernyataan penyelesaian. Hadir dalam pertemuan ini FJ Tumbelaka dan Kapten Aris M dari Kodam di satu pihak dan Lendy Tumbelaka dan Wim Tenges dilain pihak.

Selanjutnya, 03 April 1960, pertemuan terakhir (ke-10) di Ritei antara FJ. Tumbelaka dengan DJ. Somba, Abe Mantiri, Lendy Tumbelaka, dan Wim Tenges tentang upacara yang akan dilangsungkan pada tanggal 04 April 1961.

Pada 04 April 1961. Upacara Pernyataan Penyelesaian peristiwa Permesta ditandatangani DJ. Somba. (Hadir Pangdam Brigjen Soenandar dan jajarannya dan DJ Somba dan jajarannya). Pangdam menerima defile pasukan Permesta.

Setelah upacara 04 April 1961 di antara Malenos dan Lopana (sekarang Malenos Baru, Minahasa Selatan) dirangkaikan dengan Upacara di Woloan, Tomohon yang dihadiri Mayjend Hidayat dan Brigjend Ahmad Yani, sedangkan upacara di Papakelan Tondano dihadiri MKN/KASAD, Jenderal AH. Nasution.

Menurut catatan dari DJ. Somba ada sekitar 25.000 personil Permesta dengan sekitar 7000 pucuk senjata yang ikut penyelesaian 04 April 1961 atau Permesta Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi.

Dari berbagai sumber dan catatan FJ. Tumbelaka

[***]

No More Posts Available.

No more pages to load.