Orang Bali membawa obor untuk menetralisir rumah dan daerah sekitar, membuat kegaduhan, dan mengeluarkan suara keras sebagai persiapan pawai.
Di setiap persimpangan dan perempatan jalan di desa, ogoh-ogoh diputar berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali selama prosesi. Dengan cara ini, roh jahat akan lengah dan tidak akan ingin lagi menyakiti manusia.
Masyarakat Bali berhenti di kuburan untuk membakar patung di akhir pawai, sehingga perayaan pembawa obor berlangsung hingga larut malam pada malam Nyepi.
[*/PSN]





