MANADO | Portalsulutnew.com — Skandal air bersih di Kota Manado kini tak lagi sekadar isu teknis. Bau busuk dugaan kelalaian hingga potensi korupsi menyeruak dari kran-kran warga. Temuan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Tahun 2023–2025 Semester III mengungkap fakta mengkhawatirkan: air produksi PDAM diduga terkontaminasi bakteri tinja manusia Escherichia coli (E. coli).
Ini bukan pelanggaran biasa, melainkan ancaman langsung bagi kesehatan publik.
Sorotan keras datang dari aktivis Sulawesi Utara, Iwan Aloisius Moniaga. Ia menilai fungsi pengawasan DPRD Manado lumpuh total, bahkan menyebutnya tak lebih dari “macan ompong”. Menurutnya, persoalan ini berpotensi masuk ranah pidana jika terbukti ada penyimpangan anggaran, khususnya dalam pengadaan bahan kimia hingga operasional produksi air.
“Ini bukan hoaks. Laporan BPK jelas mengungkap pelanggaran keuangan yang berdampak pada kualitas air. Lebih fatal lagi, airnya terpapar tinja manusia,” tegas Moniaga.
Kritik juga mengarah ke Fraksi Partai Gerindra DPRD Manado. Mereka dinilai gagal menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan strategis, yang seharusnya selaras dengan program nasional Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam peningkatan kualitas hidup dan gizi masyarakat.
Di tengah ambisi pembangunan nasional, krisis air bersih ini justru menjadi ancaman serius. “Bagaimana bicara gizi dan masa depan generasi jika air minum saja sudah tercemar? Ini bukan sekadar lalai, ini bahaya nyata,” ujar Moniaga.
Secara medis, standar dari World Health Organization (WHO) dan Permenkes No. 2 Tahun 2023 menegaskan, kandungan E. coli dalam air minum harus nol per 100 ml. Satu saja bakteri terdeteksi, air tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi.
Bakteri E. coli dikenal sebagai indikator utama kontaminasi tinja. Dalam kondisi tertentu, strain berbahaya seperti O157:H7 dapat memicu penyakit serius, mulai dari diare akut hingga gangguan ginjal, terutama pada anak-anak.
Moniaga memperingatkan, dampaknya tidak hanya jangka pendek. Ancaman gangguan pertumbuhan anak hingga potensi wabah penyakit berbasis air kini membayangi warga Manado.
Ia menilai lemahnya pengawasan Pemerintah Kota sebagai Kuasa Pemilik Modal (KPM) dan DPRD menjadi celah utama terjadinya krisis ini.
“Kalau ini dibiarkan, sama saja sabotase terhadap program Presiden. Air adalah kebutuhan paling dasar. Ketika itu gagal dijaga, maka seluruh fondasi kesejahteraan bisa runtuh,” pungkasnya.(ronay)





