Penyelesaian pergolakan Permesta yang biasa disebut ‘Permesta Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi’ tercatat terselesaikan pada tahun 1961 melalui tiga kali gelombang penerimaan pasukan dalam bentuk upacara di lokasi antara Malenos dan Lopana (sekarang disebut Malenos Baru, Kabupaten Minahasa Selatan) yang dihadiri oleh Pangdam Merdeka, Brigjen Soenandar Pridjosoesarmo dan salah satu Tokoh Besar Permesta, Daniel Julius Somba dan jajaran lainnya.
Lalu di Tomohon yang dihadiri oleh Mayjen Hidayat dan Brigjen Ahmad Yani dari pihak TNI serta salah satu Tokoh Besar Permesta, AE Kawilarang dan beberapa jajaran. Terakhir di Papakelan Minahasa yang dihadiri oleh MKN / KASAD, Jenderal AH. Nasution dan salah satu Tokoh Besar Permesta, Daniel Julius Somba.
Dalam perjalanan upaya mewujudkan ‘Permesta Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi’ berawal dari pembicaraan bersifat pribadi di Jalan Ijen Nomor 44 Malang antara dua kawan lama, Kolonel Soerachman yang merupakan Panglima Divisi Brawijaya dan Frits Johanes Tumbelaka atau biasa disapa Broer Tumbelaka pada bulan Oktober 1959.
Pertemuan awal ini melahirkan gagasan untuk melakukan upaya penyelesaian pergolakan Permesta. Setelahnya dilanjutkan sekitar dua kali pertemuan di kota Malang, Jawa Timur melibatkan sejumlah petinggi militer dari Divisi Brawijaya selain Panglima Kolonel Soerachman, seperti Letnan Kolonel Soenarjadi dan lainnya dimana hasil akhirnya mengirim FJ ‘Broer’ Tumbelaka ke Manado dalam misi rahasia sebagai upaya penyelesaian pergolakan Permesta
Sesuai catatan, FJ ‘Broer’ Tumbelaka mendarat di Manado pada awal Januari 1960 atau tepatnya tanggal 5 Januari dengan bantuan dari pihak Panglima Divisi Brawijaya, Kolonel Soerachman.
Setelah melakukan orientasi awal di Manado dan serangkaian upaya melakukan hubungan dengan pihak Permesta, maka diputuskan untuk dilakukan kontak dengan salah satu Tokoh Besar Permesta, DJ Somba dengan dasar beberapa pertimbangan seperti FJ ‘Broer’ Tumbelaka dan DJ Somba adalah kawan lama sejak sama-sama berdinas ketentaraan di Surabaya, Jawa Timur
Setelah berbagai upaya melakukan kontak yang gagal melalui sejumlah kurir atau penghubung khusus, pada akhirnya dipilih orang sipil, SH Ticoalu (Tjame) yang kebetulan salah satu puteranya, Harry Ticoalu merupakan personil Permesta di WK I yang bertugas diseputaran wilayah Gunung Klabat (sekarang Minahasa Utara), selain itu diketahui DJ Somba dan SH Ticoalu (Tjame) secara pribadi saling mengenal.
Upaya komunikasi mengirim surat rahasia dari FJ ‘Broer’ Tumbelaka kepada DJ Somba dimana FJ ‘Broer’ Tumbelaka memakai nama samaran dokter Browsted, berhasil setelah SH Ticoalu berhasil menyerahkan surat rahasia tersebut kepada DJ Somba.
Sesuai rencana yang disepakati, pada tanggal 15 Maret 1960, FJ ‘Broer’ Tumbelaka menuju lokasi desa Matungkas (sekarang Minahasa Utara) dari desa Sukur Airmadidi dengan tanpa pengawalan. Perjalanan hanya ditemani SH Ticoalu dengan menggunakan ‘roda sapi’
Lokasi pertemuan ditetapkan di rumah Keluarga Polii (sekarang kediaman Keluarga Sompie Singal – Polii. Mantan Bupati Minahasa Utara).
Pertemua antara dua kawan lama, DJ Somba dengan FJ ‘Broer’ Tumbelaka berlangsung setelah makan malam bersama. Dalam pembicaraan empat mata, masing-masing menyampaikan pandangannya terkait situasi politik Nasional serta juga pergolakan Permesta dan sempat terjadi perdebatan hangat dikarenakan silang pendapat yang tajam antara dua kawan lama. Pembicaraan diakhiri dengan DJ Somba menyerahkan tulisan Pokok-pokok Pikiran dari Tokoh Besar Permesta, Joop Warouw, untuk dipelajari oleh FJ ‘Broer’ Tumbelaka.
Setelah pembicaraan empat mata, FJ ‘Broer’ Tumbelaka bermalam dilokasi pertemuan yang telah dipersiapkan oleh jajaran dari DJ Somba. Pada esok paginya FJ ‘Broer’ Tumbelaka dengan ditemani SH Ticoalu (Tjame) meninggalkan lokasi pertemuan dengan dilepas langsung oleh DJ Somba. Dan setiba di desa Sukur, Airmadidi, FJ ‘Broer’ Tumbelaka dijemput oleh pihak dari TNI.
Hasil pertemuan pertama dilaporkan khusus kepada Panglima Divisi Brawijaya, Kolonel. Soerachman dan selanjutnya oleh kepada MKN / KASAD, Jenderal AH Nasution di Jakarta pada 14 April 1960
Pasca pertemuan 15 Maret 1960 di Matungkas dilanjutkan dengan pertemuan lanjutan atau ke 2 dengan DJ Somba namun pertemuan ke 2 tertunda cukup lama dikarenakan pasca pertemuan 15 Maret 1960 di Matungkas lahir propinsi baru yang diberi nama Sulawesi Utara – Tengah (Sulutteng) dengan ibukota di Manado.
Pada 25 Mei 1960 Pemerintah menunjuk AA Baramuli sebagai Gubernur Sulutteng dan FJ ‘Broer’ Tumbelaka menjadi Wakil Gubernur Sulutteng dengan tugas khusus dibidang Keamanan.
Selanjutnya FJ ‘Broer’ Tumbelaka yang telah menjadi Wakil Gubernur Sulutteng melanjutkan pertemuan ke 2 dengan pihak Permesta pada 9 Agustus 1960 di Popareng, Teluk Amurang (sekarang Minahasa Selatan) dimana dalam menuju lokasi melalui laut untuk mendarat di pantai.
Tercatat kemudian ada sekitar 8 kali pertemuan lanjutan yang semuanya di wilayah Permesta sampai pada akhirnya terjadi tiga kali upacara penerimaan pasukan Permesta di Malenos Baru Minahasa Selatan, Woloan Tomohon dan Papakelan Minahasa.
Catatan Lainnya:
Pasca penyelesaian pergolakan Permesta, pada tahun 1962. FJ ‘Broer’ Tumbelaka ditunjuk Pemerintah Pusat menjadi Penjabat Gubernur Sulutteng kemudian ditetapkan sebagai Gubernur Sulutteng merangkap Ketua DPRD Sulutteng.
Pada tanggal 23 September 1964 lahir propinsi Sulawesi Utara (Sultara – Sulut) dengan Ibukota di Manado dan FJ ‘Broer’ Tumbelaka diangkat menjadi Gubernur Sultara / Sulut merangkap Ketua DPRD Sultara / Sulut.
Oleh : Taufik Manuel Tumbelaka
(Dirangkum Dari berbagai sumber)





