MANADO | Portalsulutnew.com — Aroma perubahan mulai terasa di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara. Bukan sekadar pendaftaran calon ketua, tapi sinyal perlawanan terhadap pola lama yang selama ini dinilai stagnan.
Nama Sintya Nidya Christin Bojoh mendadak jadi sorotan. Wartawati televisi nasional ini resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua PWI Sulut periode 2026–2031, Kamis (19/3/2026).
Ia bukan hanya kandidat. Sintya adalah perempuan pertama yang berani masuk gelanggang perebutan pucuk pimpinan PWI di tingkat provinsi.
Kehadirannya di Kantor PWI Sulut, Jalan Sudirman, bukan formalitas. Sekitar pukul 14.00 WITA, Sintya datang dengan pesan simbolik mengenakan busana adat Kabasaran. Bukan gaya melainkan ini adalah pernyataan sikap. Kabasaran identik dengan keberanian, keteguhan, dan perlawanan. Dan itu yang ia bawa ke tubuh organisasi.
Puluhan pendukung ikut mengiringi. Sebagian bahkan tampil dengan atribut serupa. Suasana berubah dari proses administratif menjadi panggung perlawanan terhadap status quo.
Di balik langkah itu, terselip kritik. Sintya secara terbuka menyoroti persoalan klasik yakni hak anggota yang dinilai kerap terabaikan. Ia menawarkan narasi berbeda bukan hanya memimpin, tapi membenahi dari dalam.
“Kalau saya terpilih, saya akan berdiri di depan memperjuangkan hak anggota, menjaga marwah organisasi, dan memastikan PWI benar-benar menjadi rumah bagi insan pers,” tegasnya.
Langkah Sintya tak berdiri sendiri. Ketua Steering Committee, Jemmy Senduk, mengakui ini momen langka.
Perempuan dalam bursa calon ketua PWI tingkat provinsi masih bisa dihitung jari.
“Ini sejarah. Kehadiran perempuan dalam kontestasi ini jadi kebanggaan bagi PWI Sulut,” ujarnya.
Di tengah dominasi kandidat pria, kemunculan Sintya menjadi semacam “anomali” yang justru memantik perhatian. Ia tercatat sebagai pendaftar keempat, menyusul nama-nama seperti John W. Paransi, Raymon Wowor, Faruk Langaru, dan Merson Simbolon.
Pendaftaran sendiri masih dibuka hingga tengah malam, namun dinamika sudah mulai terbaca, ini bukan sekadar kontestasi biasa.
Dengan rekam jejak panjang di dunia jurnalistik mulai dari TV5 Dimensi, Kompas TV, hingga SCTV. Sintya datang membawa modal pengalaman dan keberanian untuk menantang arus lama.
Kini, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling senior. Tapi siapa yang berani mengubah.
Kontestasi PWI Sulut berubah arah. Bukan saja pemilihan ketua, tapi menjadi pertarungan ide: Bertahan di pola lama, atau melompat ke wajah baru yang lebih inklusif dan progresif. ***





