Catatan Redaksi di Penghujung Tahun 2025: Ekonomi Sulut Tumbuh, Dapur Rakyat Tetap Mengeluh

oleh
oleh
Catatan Redaksi Ekonomi Sulut
Suasana dan aktivitas antara Pasar Modern dan Pasar Tradisional di Kota Manado (Dokumen foto kolase Portalsulutnew.com)

SEPANJANG Tahun 2025, ekonomi Sulawesi Utara memang bergerak. Angka pertumbuhan dicatat, grafik menanjak, dan laporan resmi menyebut stabilitas. Namun di balik optimisme statistik itu, dapur-dapur rumah tangga masih bergumul dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan. Harga kebutuhan pokok yang tak menentu, daya beli yang melemah, serta pendapatan yang kian tergerus menjadi cerita harian masyarakat.

Di penghujung tahun ini, ekonomi Sulut berada di persimpangan. Tumbuh di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya menenangkan kehidupan rakyat.

Potret Umum Ekonomi Sulut 2025

Manado tetap menjadi pusat perputaran uang Sulawesi Utara. Aktivitas perdagangan dan jasa masih menjadi penggerak utama roda ekonomi. Mal-mal ramai di waktu tertentu, kafe tumbuh di sudut kota, dan sektor jasa bertahan sebagai penopang. Namun denyut itu belum sepenuhnya stabil.

Pariwisata yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan, belum pulih sepenuhnya. Kunjungan memang ada, tetapi belum konsisten. UMKM bertahan, namun lebih banyak bertahan hidup daripada berkembang pesat.

Banyak pelaku usaha kecil mengandalkan momen musiman, hari besar keagamaan, event pemerintah, atau proyek tertentu. Di luar itu, perputaran uang terasa melambat.

Ekonomi Sulut 2025 bergerak, tetapi rapuh. Ia hidup dari momentum, bukan dari fondasi yang benar-benar kuat dan berkelanjutan.

Keluhan Nyata Masyarakat

Keluhan masyarakat menjadi benang merah sepanjang tahun ini. Daya beli melemah. Harga kebutuhan pokok fluktuatif naik turun tanpa pola yang menenangkan. Lapangan kerja baru terbatas, terutama bagi lulusan muda dan pekerja non-formal.

Pedagang kecil mengeluhkan sepinya pembeli. Pekerja sektor informal hidup dalam ketidakpastian pendapatan harian. Kelas menengah yang dulu relatif aman kini ikut tertekan oleh biaya hidup yang terus meningkat. Pendapatan tak lagi sebanding dengan pengeluaran.

UMKM menghadapi tantangan klasik. Akses modal yang sulit, pasar yang sempit, dan persaingan yang makin ketat. Banyak yang bertahan dengan mengurangi skala usaha, bukan dengan ekspansi.

Faktor Penyebab Naik-Turunnya Ekonomi

Redaksi Portalsulutnew.com mencatat, naik-turunnya ekonomi Sulut tak berdiri sendiri. Ada pengaruh ekonomi nasional dan global yang tak bisa dihindari. Namun faktor internal juga kuat.

Ketergantungan pada APBD dan proyek pemerintah masih tinggi. Saat proyek berjalan, ekonomi bergerak. Saat melambat, pasar ikut lesu. Di sisi lain, belanja masyarakat cenderung menahan diri. Orang lebih berhitung, lebih waspada, dan memilih menyimpan daripada membelanjakan.

Kurangnya diversifikasi ekonomi daerah membuat Sulut rentan terhadap guncangan. Distribusi ekonomi juga belum merata, pertumbuhan terpusat, sementara wilayah pinggiran bergerak lebih lambat.

Tantangan Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah berada di posisi sulit sekaligus strategis. Menjaga stabilitas harga tanpa membebani rakyat bukan perkara mudah. Mendorong pertumbuhan ekonomi sambil memastikan manfaatnya dirasakan luas menjadi pekerjaan rumah besar.

Sinkronisasi program pusat dan daerah sering kali masih tersendat di level teknis. Penyerapan anggaran belum selalu efektif, dan dampaknya belum optimal di tingkat akar rumput.

Tantangan terbesarnya adalah mengubah angka pertumbuhan menjadi kesejahteraan riil bukan sekadar laporan tahunan.

Evaluasi Kebijakan 2025

Sepanjang 2025, program ekonomi sejatinya sudah ada. Regulasi disusun, bantuan disalurkan, dan agenda dijalankan. Namun dampaknya belum terasa luas. Banyak kebijakan masih bersifat elitis dan administratif, rapi di atas kertas, minim getaran di lapangan.

Ekonomi rakyat kecil sering kali hanya disentuh di permukaan. Program berjalan, tetapi denyut ekonominya belum sepenuhnya terasa di kantong rakyat. Inilah evaluasi jujur yang perlu diterima bersama.

Harapan dan Solusi Menuju Tahun 2026

Menatap Tahun 2026, redaksi Portalsulutnew.com memandang perlu adanya koreksi arah. Penguatan UMKM harus berbasis kelurahan dan desa, bukan sekadar program seremonial. Intervensi harga bahan pokok perlu konsisten, bukan reaktif saat gejolak muncul.

Penciptaan lapangan kerja lokal harus menjadi prioritas, terutama yang berbasis potensi daerah. Digitalisasi ekonomi rakyat bukan pilihan, melainkan kebutuhan agar pelaku kecil tidak tertinggal.

Sektor unggulan Sulut seperti pariwisata, perikanan, dan pertanian perlu diperkuat dengan kebijakan yang berkelanjutan, bukan proyek sesaat. Fondasi ekonomi harus diperlebar, bukan hanya dipercepat.

Peran Media dan Partisipasi Publik

Di tengah dinamika ini, media memegang peran penting sebagai penjaga nalar publik. Kritik yang membangun diperlukan agar kebijakan tidak berjalan dalam ruang hampa. Partisipasi masyarakat dalam mengawasi kebijakan ekonomi menjadi kunci agar arah pembangunan tetap berpihak pada rakyat.

Portalsulutnew.com menegaskan posisinya sebagai ruang suara warga, bukan sekadar pengabaran angka. Di sinilah cerita-cerita kecil mendapat tempat, dan data diuji oleh realitas.

Penutup

Menatap 2026, Sulawesi Utara membutuhkan lebih dari sekadar optimisme angka. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membaca ulang arah kebijakan dan mendengarkan denyut kehidupan rakyat di bawah. Pertumbuhan ekonomi harus kembali pada tujuan utamanya, menghadirkan rasa aman di dapur rumah tangga, kepastian kerja, dan harapan yang nyata.

Ekonomi Sulut bisa bangkit dan menguat jika kebijakan tidak berhenti pada laporan, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Tahun 2026 bukan hanya soal besaran anggaran, melainkan tentang keberpihakan.

Di persimpangan inilah, pilihan harus dibuat. Membiarkan ekonomi tumbuh tanpa rasa, atau mengubah arah agar pertumbuhan benar-benar bermakna bagi rakyat.

Catatan Redaksi portalsulutnew.com

Penulis : Romel Nayoan

No More Posts Available.

No more pages to load.