Bitung, Portalsulutnew.com – Kesiapsiagaan menghadapi ancaman pencemaran laut menjadi fokus utama pelaksanaan Regional Marine Pollution Exercise (MARPOLEX) ke-25 yang berlangsung pada 8–12 Oktober 2026 di Manado dan Bitung, Sulawesi Utara.
Indonesia menjadi tuan rumah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, dengan melibatkan Filipina dan Jepang dalam latihan regional dua tahunan tersebut. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat koordinasi lintas negara, menyelaraskan prosedur penanganan insiden, serta meningkatkan kemampuan respons terhadap keadaan darurat di laut.
Sejumlah kapal dari ketiga negara telah bersandar di Dermaga Samudera, Bitung, sebagai bagian dari persiapan latihan. Indonesia mengerahkan KN Sarotama P-112 dari Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Uban sebagai kapal VVIP, bersama sejumlah kapal negara dari PLP Bitung, PLP Tanjung Perak, dan KSOP Bitung.
Filipina mengirimkan BRP Gabriela Silang dan BRP Tubbataha, sementara Jepang berpartisipasi melalui kapal PLH Shikishima dari Japan Coast Guard.
Kegiatan ini dihadiri pimpinan delegasi masing-masing negara, yakni Triono dari Indonesia, RADM Meniado PCG dari Filipina, serta Captain Kyoko Ono dari Jepang. Sebanyak 27 unsur dari berbagai instansi turut dilibatkan, antara lain Ditjen Perhubungan Laut, Kodaeral VIII Bitung, Polairud Bitung, Bakamla, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK), BMKG, Basarnas, SKK Migas, dan Pertamina Patra Niaga.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Triono, menegaskan bahwa latihan ini memiliki arti penting dalam membangun kesamaan pemahaman dan prosedur penanganan pencemaran laut di antara negara peserta.
“Melalui Regional MARPOLEX, kita berupaya menyamakan pemahaman dan prosedur penanganan pencemaran laut antarnegara. Dengan begitu, apabila terjadi insiden, kita semua dapat merespons secara cepat, efektif, dan terkoordinasi,” ujar Triono.
Menurutnya, koordinasi yang terbangun melalui latihan bersama menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan penanganan insiden berlangsung secara efektif, terutama ketika dampak pencemaran laut berpotensi meluas dan melintasi batas wilayah negara.
Hengky Honandar: MARPOLEX Perkuat Komitmen Menjaga Laut
Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, menyambut kehadiran delegasi dan kapal negara peserta MARPOLEX 2026. Ia menilai penyelenggaraan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi Kota Bitung untuk mengambil bagian dalam upaya regional menjaga keselamatan pelayaran dan kelestarian ekosistem laut.
“Pemerintah dan masyarakat Kota Bitung dengan hangat menyambut kehadiran seluruh delegasi Regional MARPOLEX 2026. Kehadiran para delegasi menjadi cerminan komitmen bersama untuk menjaga keselamatan pelayaran serta kelestarian laut,” kata Hengky.
Pemilihan Bitung sebagai lokasi kegiatan tidak terlepas dari posisinya yang strategis di kawasan Asia-Pasifik serta kedekatannya dengan Filipina dan Jepang. Selain itu, pelaksanaan MARPOLEX di wilayah ini juga menghidupkan kembali lokasi yang pernah menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan serupa pada 1991.
Faktor geografis tersebut menjadikan Bitung relevan sebagai lokasi penguatan kerja sama regional, khususnya dalam menghadapi risiko pencemaran laut yang membutuhkan koordinasi cepat dan keterlibatan berbagai pihak.
Tiga Skenario Disiapkan untuk Uji Kemampuan Respons
Sebelum memasuki latihan utama, seluruh unsur peserta mengikuti Table Top Exercise (TTX). Tahapan ini digunakan untuk menyamakan persepsi, menguji pola komunikasi, serta mematangkan strategi dan pembagian tanggung jawab setiap unsur dalam menghadapi situasi darurat.
Dalam simulasi tersebut, peserta membahas tiga skenario utama yang akan diterapkan pada latihan lapangan, yakni Search and Rescue (SAR) untuk penyelamatan dan evakuasi korban, Fire Fighting untuk penanganan kebakaran kapal, serta Oil Spill Response Operation untuk penanggulangan dan pembersihan tumpahan minyak di laut.
Ketiga skenario itu dirancang untuk menguji kesiapan personel, efektivitas komunikasi, dan kemampuan koordinasi antarinstansi maupun antarnegara ketika menghadapi insiden maritim.
Triono menekankan bahwa hasil pembahasan dalam TTX akan menjadi pedoman bagi seluruh unsur saat menjalankan latihan utama.
“Apa yang telah dibahas dan disepakati dalam Table Top Exercise ini akan menjadi acuan untuk diterapkan dalam latihan utama nanti, sehingga setiap unsur dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya masing-masing,” pungkasnya.
Melalui MARPOLEX 2026, Indonesia, Filipina, dan Jepang diharapkan semakin memperkuat kapasitas bersama dalam menghadapi keadaan darurat maritim. Lebih dari sekadar latihan, kegiatan ini menjadi sarana menguji kesiapan operasional dan membangun koordinasi untuk melindungi keselamatan pelayaran serta menjaga kelestarian lingkungan laut di kawasan regional.(*/psn)








